Refleksi 100 Tahun NU, Menag Nilai PBNU Tunjukkan Kematangan Organisasi

Sabtu, 31 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Peringatan 100 tahun masehi Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar seremoni usia organisasi. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang refleksi tentang perjalanan panjang NU sebagai kekuatan keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Indonesia.

Dalam puncak perayaan Harlah NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pandangan yang menarik sekaligus mendalam: NU sejatinya adalah pesantren besar yang telah matang sebagai organisasi.

Nasaruddin menegaskan bahwa rentang waktu satu abad bukanlah perjalanan singkat bagi sebuah organisasi. Selama 100 tahun tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai berhasil menunjukkan kematangan dalam mengelola dinamika internal sekaligus menjaga perannya di tengah masyarakat.

“PBNU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi. Pesantren, saya sering mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama itu sesungguhnya adalah pesantren besar,” ujar Nasaruddin Umar dalam khutbahnya.

Baca juga:  Dosen UMS Dampingi Ibu-ibu PKK Atur Keuangan Keluarga Secara Bijak

Pernyataan ini menegaskan posisi NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai ekosistem pendidikan dan keilmuan yang hidup—sebagaimana tradisi pesantren yang telah mengakar kuat dalam sejarah NU.

Dalam pandangan Nasaruddin, pesantren NU sejak awal memang sarat dengan dinamika. Perbedaan pandangan, diskusi keilmuan, hingga perdebatan madzhab merupakan hal yang wajar dan bahkan menjadi kekuatan tersendiri.

“Di dalam pondok pesantren itu penuh dengan dinamika, tetapi pondok pesantren ini tidak bisa dipisahkan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Ia menambahkan bahwa diskusi di pesantren kerap berlangsung panas, terutama dalam pembahasan keilmuan. Namun, dinamika tersebut justru menandakan kehidupan intelektual yang sehat dan terus bergerak.

Baca juga:  Pelatihan Pembuatan Eco Enzyme dan Sabun dengan Kearifan Lokal di Desa Peron

“Di dalam pondok pesantren itu penuh dengan dinamika dan pembahasan madzhab, kadang sangat panas diskusinya. Tetapi pondok pesantren ini tidak bisa dipisahkan dengan Nahdlatul Ulama karena pondok pesantren itu adalah NU besar,” ucapnya.

Meski perbedaan pendapat kerap muncul, Nasaruddin menekankan satu nilai utama yang menjadi fondasi pesantren dan NU: akhlakul karimah. Santri diajarkan untuk tetap menghormati kiai dan guru, bahkan ketika berada dalam perbedaan pandangan.

Nilai inilah yang dinilai menjadi pembeda NU dalam menyikapi perbedaan. Kritik dan diskusi tidak pernah dilepaskan dari etika, adab, dan rasa hormat terhadap keilmuan serta tradisi.

Lebih jauh, Nasaruddin menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang inklusif. NU tidak membangun sekat yang kaku antara “orang dalam” dan “orang luar”.

Baca juga:  Kementerian PPPA Tegaskan Pentingnya Perlindungan Anak dari Ancaman Radikalisme Digital

“Di dalam NU, tidak ada orang lain, bahkan orang lain pun menjadi orang dalam dalam lingkungan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Pernyataan ini mencerminkan karakter NU yang adaptif, terbuka, dan mampu berdialog dengan berbagai kalangan—baik dari latar belakang agama, budaya, maupun pemikiran yang beragam.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, Nasaruddin menegaskan pentingnya konsistensi NU dalam menjaga moderasi beragama. Menurutnya, NU memiliki peran strategis sebagai penengah di tengah polarisasi dan perbedaan yang kerap muncul di masyarakat.

“Nahdlatul Ulama tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Minta Pemkab Pekalongan Tetap Maksimalkan Pelayanan Publik di Tengah Dinamika Pemerintahan
Pemprov Jateng Siapkan Rp6 Miliar untuk THR 13 Ribu PPPK Paruh Waktu, Cair 13 Maret
DPR Soroti Potensi Penyalahgunaan AI, Pemerintah Didorong Segera Siapkan Regulasi
Program Perlindungan Anak Diperluas, Pemerintah Siapkan Makan Bergizi hingga Aturan Media Sosial
Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara di UIN Saizu, Kemenag Dorong Internasionalisasi Kampus Islam
Kemenag Tetapkan Standar Nasional Zakat Produktif melalui PMA 16 Tahun 2025
Embung Plosorejo Sragen Diresmikan, 50 Hektare Sawah Kini Punya Cadangan Air Saat Kemarau
Harga Minyak Dunia Tembus 80 Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Tetap Aman

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 09:22 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Minta Pemkab Pekalongan Tetap Maksimalkan Pelayanan Publik di Tengah Dinamika Pemerintahan

Selasa, 10 Maret 2026 - 07:00 WIB

Pemprov Jateng Siapkan Rp6 Miliar untuk THR 13 Ribu PPPK Paruh Waktu, Cair 13 Maret

Senin, 9 Maret 2026 - 15:39 WIB

DPR Soroti Potensi Penyalahgunaan AI, Pemerintah Didorong Segera Siapkan Regulasi

Senin, 9 Maret 2026 - 06:06 WIB

Program Perlindungan Anak Diperluas, Pemerintah Siapkan Makan Bergizi hingga Aturan Media Sosial

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:17 WIB

Kemenag Tetapkan Standar Nasional Zakat Produktif melalui PMA 16 Tahun 2025

Berita Terbaru