Perkuat Distribusi MBG, Kemen PPPA Dorong Pemenuhan Gizi Anak hingga ke Rumah

Jumat, 30 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda terus diperkuat. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menegaskan pentingnya optimalisasi distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Program MBG yang telah berjalan selama satu tahun dinilai memberikan dampak nyata. Namun, tantangan ke depan bukan hanya memastikan makanan sampai ke penerima, melainkan memastikan keberlanjutan gizi anak, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Menteri PPPA Arifah Fauzi menyebut, penguatan distribusi MBG menjadi kunci agar program ini benar-benar menjadi fondasi peningkatan kualitas gizi generasi Indonesia.

“Kemen PPPA mendukung Program MBG yang telah berjalan satu tahun dan memberikan manfaat nyata bagi anak-anak. Ke depan, jangkauan program harus diperkuat agar anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus juga merasakan pemenuhan gizi,” ujar Arifah dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Baca juga:  RUU Perlindungan dan Keamanan Siber Dinilai Mendesak di Tengah Maraknya Anak Terpapar Konten Digital

Arifah menekankan bahwa pemenuhan gizi anak tidak bisa berhenti di sekolah. Menurutnya, rumah tetap menjadi ruang utama pengasuhan, sehingga peran orang tua—terutama ibu—menjadi faktor penentu keberlanjutan program MBG.

Ia menilai, peningkatan kapasitas ibu dalam memahami gizi dan ketahanan pangan keluarga akan berdampak langsung pada kesehatan anak sekaligus kemandirian ekonomi perempuan.

“Penguatan peran ibu menjadi kunci keberlanjutan MBG. Perempuan perlu dibekali pemahaman gizi dan ketahanan pangan, termasuk memanfaatkan pekarangan sebagai kebun keluarga produktif,” ucapnya.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya membangun keluarga tangguh, di mana pemenuhan gizi tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan, tetapi juga pada kesadaran dan kemampuan keluarga mengelola pangan secara mandiri.

Baca juga:  Mahasiswa Magang Ilmu Perpustakaan dan Informasi Hadirkan Buku Panduan Mandiri Bagi Pemustaka Digital Library Sekolah Vokasi Undip

Selain menyoroti aspek gizi, Kemen PPPA juga menekankan pentingnya perlindungan bagi para pekerja dalam ekosistem MBG.

Arifah menegaskan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus menjadi ruang kerja yang aman, bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

Menurutnya, tata kelola layanan MBG harus berperspektif perlindungan perempuan dan anak, mengingat banyak pekerja perempuan terlibat langsung dalam proses produksi dan distribusi makanan.

Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan anak-anak yang sehat, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang adil dan bermartabat.

Dari sisi koordinasi lintas sektor, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pentingnya penyelarasan dan validasi data penerima MBG.

Ia mengakui masih terdapat perbedaan data di lapangan, sehingga perlu sinkronisasi agar penyaluran lebih tepat sasaran dan akuntabel.

Data balita, ibu hamil, dan ibu menyusui akan diselaraskan lintas kementerian dan lembaga, termasuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta Kementerian Kesehatan.

Baca juga:  Program Dokter Spesialis Keliling Jawa Tengah Tuai Apresiasi, Wamenkes: Layak Jadi Program Nasional

“Dalam pengelolaan MBG masih ada perbedaan data. Semua akan kita selaraskan agar mendapat data terbaik. Perkembangan anak juga akan diukur sebelum dan sesudah menerima MBG,” kata Zulkifli.

Pengukuran ini dinilai penting untuk memastikan MBG benar-benar memberikan dampak terhadap tumbuh kembang anak, bukan sekadar distribusi makanan.

Zulkifli juga memastikan layanan MBG tetap berjalan selama bulan puasa. Distribusi bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui akan tetap dilakukan, sementara untuk anak sekolah akan disesuaikan dari sisi waktu dan jenis makanan.

“Prinsipnya, pelayanan MBG tidak boleh berhenti bagi seluruh kelompok sasaran. Program MBG diharapkan menjadi langkah strategis pemerintah dalam menekan stunting,” tegasnya.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

AHY Dorong Percepatan Internet di Daerah 3T, Targetkan Pemerataan Digital hingga Perbatasan
DPR Dukung Penundaan Sementara Umrah, Keselamatan Jamaah Jadi Prioritas Utama
Tol Bawen–Yogyakarta Ruas Bawen–Ambarawa Difungsikan Saat Mudik Lebaran 2026, Ini Dampaknya
Jelang Lebaran 2026, 308 Ribu Warga Jateng Serbu Gerakan Pangan Murah
Sehari Bersama Al-Qur’an, Salimah dan Ikadi Gelar Tilawah, Seminar Palestina, dan Buka Puasa Bersama
Sambut Ramadan, Said Abdullah Gelar Kegiatan Nyambheng Taretan di Situbondo
THR ASN 2026 Kapan Cair? Ini Perkiraan Jadwal dan Rincian Nominal yang Disiapkan Pemerintah
PPPK Paruh Waktu 2026 Dihapus? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:20 WIB

AHY Dorong Percepatan Internet di Daerah 3T, Targetkan Pemerataan Digital hingga Perbatasan

Selasa, 3 Maret 2026 - 16:09 WIB

DPR Dukung Penundaan Sementara Umrah, Keselamatan Jamaah Jadi Prioritas Utama

Selasa, 3 Maret 2026 - 10:41 WIB

Tol Bawen–Yogyakarta Ruas Bawen–Ambarawa Difungsikan Saat Mudik Lebaran 2026, Ini Dampaknya

Selasa, 3 Maret 2026 - 07:16 WIB

Jelang Lebaran 2026, 308 Ribu Warga Jateng Serbu Gerakan Pangan Murah

Senin, 2 Maret 2026 - 20:53 WIB

Sehari Bersama Al-Qur’an, Salimah dan Ikadi Gelar Tilawah, Seminar Palestina, dan Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru