Harga Cabai Rawit Masih Tinggi di Awal 2026, BPS Catat Tren Mulai Melandai

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Harga cabai rawit nasional masih menjadi perhatian di awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, hingga pekan kedua Januari, harga komoditas ini masih bertengger di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah.

Meski demikian, sinyal perbaikan mulai terlihat setelah harga perlahan mengalami penurunan dibandingkan akhir tahun lalu.

Rata-rata harga cabai rawit nasional tercatat sekitar Rp61.695 per kilogram. Angka tersebut memang masih tinggi, namun secara bulanan menunjukkan penurunan sebesar 7,63 persen dibandingkan Desember 2025 yang sempat menyentuh Rp66.794 per kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Statistik Harga BPS, Windhiarso Putranto, menjelaskan bahwa dalam dua pekan terakhir, pergerakan harga cabai rawit cenderung melandai.

Baca juga:  KKN UPGRIS Kelompok 38 Ikut Serta dalam Posyandu Lansia dan Balita di RW 6 Desa Watuagung

Walaupun masih melampaui harga acuan, tren penurunan mulai terlihat jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

“Dalam dua minggu terakhir, meskipun harganya masih di atas harga acuan, tapi secara rata-rata sudah mengalami penurunan,” ujar Windhiarso, dikutip dari kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri, Rabu (14/1/2026).

Sebagai catatan, HAP konsumen untuk cabai rawit ditetapkan pada rentang Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram. Dengan posisi harga saat ini, cabai rawit masih berada di atas batas atas yang menjadi rujukan pemerintah.

Dari sisi sebaran wilayah, BPS mencatat sekitar 46,94 persen daerah di Indonesia mengalami penurunan Indeks Perubahan Harga (IPH) cabai rawit dibandingkan Desember 2025.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak lagi merata seperti beberapa bulan sebelumnya.

Baca juga:  7 Cara Agar Brand Anda Muncul di Jawaban AI

Meski begitu, kenaikan harga belum sepenuhnya hilang. Hingga pekan kedua Januari 2026, masih ada 122 kabupaten dan kota yang mencatatkan IPH cabai rawit dalam tren naik. Namun, jumlah ini terus menyusut dibandingkan periode sebelumnya.

Perbedaan harga antarwilayah juga masih cukup lebar. BPS mencatat harga tertinggi cabai rawit mencapai Rp200.000 per kilogram di Kabupaten Nduga. Sebaliknya, harga terendah berada di kisaran Rp21.852 per kilogram.

Menurut Windhiarso, pemantauan IPH menjadi instrumen penting untuk membaca dinamika harga secara spasial dan temporal.

Dengan data tersebut, pemerintah dapat lebih cepat mengidentifikasi daerah rawan gejolak harga dan melakukan intervensi yang dibutuhkan.

Data ini sekaligus menjadi dasar evaluasi stabilitas harga pangan nasional, terutama untuk komoditas strategis seperti cabai rawit yang kerap memicu inflasi.

Baca juga:  Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Dukung Tradisi Susuk Wangan di Sendang Kali Ngerancah Dusun Jurang Belik Desa Mlilir

Meski tren harga mulai menurun, pemerintah tetap memasang kewaspadaan tinggi, terutama menjelang bulan Ramadan. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, meminta pemerintah daerah aktif memantau kondisi pasokan di lapangan.

“Masing-masing daerah tolong cek, turun ke lapangan. Tanyakan sumber barangnya dari mana dan kesulitannya apa,” kata Tomsi.

Ia mengingatkan, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan lonjakan harga pangan sering terjadi sekitar satu bulan sebelum Ramadan.

Sejumlah komoditas yang kerap terdampak antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, telur, hingga bahan bakar.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Penanganan Gogosan Jalur KA Cibeber–Lampegan Selesai, Perjalanan KA Siliwangi Kembali Normal
Update Penanganan Gogosan di Petak Jalan Cibeber–Lampegan, Sejumlah Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan Demi Keselamatan
PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Dorong Ketahanan Pangan dan Energi melalui Program Pengembangan & Hilirisasi Ubi Kayu
BBCA Diborong Direksi Saat Turun! Kesempatan Langka Sebelum Harga Terbang ke 10.000?
Rupiah Terus Melemah Picu Minat Investor Terhadap USDT/IDR, Bittime Soroti Perubahan Strategi Investasi Investor Indonesia
Kisah Haji Tahun Ini: Sempat Khawatir Pelunasan, Biaya Tak Jadi Halangan
Penguatan Operasional Manufaktur Baja untuk Kemandirian Industri
Tokocrypto dan Circle Jajaki Kolaborasi, Perkuat Ekosistem Stablecoin di Indonesia

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 22:03 WIB

Penanganan Gogosan Jalur KA Cibeber–Lampegan Selesai, Perjalanan KA Siliwangi Kembali Normal

Senin, 20 April 2026 - 21:03 WIB

Update Penanganan Gogosan di Petak Jalan Cibeber–Lampegan, Sejumlah Perjalanan KA Siliwangi Dibatalkan Demi Keselamatan

Senin, 20 April 2026 - 20:03 WIB

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Dorong Ketahanan Pangan dan Energi melalui Program Pengembangan & Hilirisasi Ubi Kayu

Senin, 20 April 2026 - 20:03 WIB

BBCA Diborong Direksi Saat Turun! Kesempatan Langka Sebelum Harga Terbang ke 10.000?

Senin, 20 April 2026 - 20:03 WIB

Rupiah Terus Melemah Picu Minat Investor Terhadap USDT/IDR, Bittime Soroti Perubahan Strategi Investasi Investor Indonesia

Berita Terbaru