Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Capai Rekor Tertinggi, Menag Tekankan Peran Keluarga dan Ekoteologi

Selasa, 6 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Indonesia kembali mencatatkan capaian penting dalam kehidupan berbangsa. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa indeks kerukunan umat beragama Indonesia tahun 2025 mencapai skor 77,89, angka tertinggi sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka.

Capaian ini menjadi penanda bahwa harmoni di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial masih terjaga dengan baik.

Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Perayaan Natal Nasional 2025 yang digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di hadapan ribuan umat dan tokoh lintas agama, Nasaruddin menegaskan bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang hadir secara instan, melainkan hasil dari kesadaran kolektif dan nilai iman yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita patut bersyukur. Kondisi kerukunan umat beragama di Indonesia terus terpelihara dan bahkan mencapai titik tertinggi dalam sejarah,” ujarnya.

Baca juga:  RSJPD Harapan Kita – Tokushukai Capai Topping Off, PTPP Hadirkan Smart Hospital Berteknologi Tinggi

Menag menekankan bahwa kerukunan sejati berakar dari pemahaman iman yang utuh. Menurutnya, hubungan manusia dengan Tuhan tidak bisa dilepaskan dari relasi dengan sesama dan alam.

“Dalam perspektif iman, damai dengan Tuhan harus tercermin dalam damai dengan sesama dan damai dengan alam semesta,” kata Nasaruddin.

Ia juga mengaitkan momentum Natal dengan pesan universal yang dibawa kelahiran Yesus Kristus, yakni pesan perdamaian yang menyeluruh.

Damai bukan hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga sosial dan ekologis. Pesan ini, menurut Menag, relevan dengan tantangan dunia modern yang dihadapkan pada konflik sosial dan krisis lingkungan.

Salah satu poin penting yang ditekankan Menag adalah peran keluarga sebagai titik awal kerukunan.

Ia menyebut keluarga sebagai ruang pertama tempat nilai iman, kemanusiaan, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan diwariskan.

Baca juga:  Pemantauan Keamanan Hutan dan Deteksi Kebakaran Lahan dengan DJI Dock 3

“Harmoni ini dimulai dari dalam keluarga. Keluarga merupakan titik sentral dari seluruh harmoni sosial,” ujar Nasaruddin.

Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi di ruang publik, keluarga dinilai memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai cinta kemanusiaan sejak dini. Nilai tersebut, lanjut Menag, harus melahirkan empati dan kepedulian nyata tanpa membedakan agama, suku, maupun budaya.

Dalam pidatonya, Nasaruddin juga menyinggung pentingnya ekoteologi, yaitu kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.

Ia menegaskan bahwa bumi diciptakan bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dipelihara demi keberlanjutan generasi mendatang.

Sejalan dengan itu, Kementerian Agama mendorong penguatan kerukunan melalui pendekatan pendidikan.

Salah satunya dengan mengimplementasikan kurikulum cinta dan ekologi yang diterapkan melalui berbagai program konkret.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Posko 35 UIN Walisongo Tebar Semangat Mengajar Al-Qur’an di Mushola Miftahul Jannah

“Kurikulum ini kami dorong sebagai jawaban atas problem aktual, baik konflik sosial maupun kerusakan lingkungan,” ungkap Menag.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama tidak hanya dibangun melalui dialog, tetapi juga melalui aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan alam.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto turut memberikan sambutan.

Kepala Negara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Perayaan Natal Nasional dan menilai acara tersebut sebagai cerminan wajah Indonesia yang rukun dan saling menghormati.

“Perayaan ini adalah kehormatan bagi saya. Ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang rukun, harmonis, dan saling menghormati satu sama lain,” kata Presiden Prabowo.

Ia menegaskan bahwa keberagaman bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang harus terus dijaga dengan sikap saling menghargai dan menghormati.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Menuju Usia ke-45, BINUS University Raih Global Most Innovative Knowledge Enterprise (MIKE) Award 2025: Wujudkan Dampak Berkelanjutan
Ketegangan Amerika-Iran Kembali Memanas, Bittime Soroti Pentingnya Diversifikasi Aset Investasi
Krakatau Steel Soroti Pergeseran Peta Baja Global, Dorong Penguatan Struktur Pasar Domestik yang Sehat
Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kinerja Kopi PalmCo Tetap Solid di Tengah Tekanan Cuaca
KAI Hadirkan KA Sangkuriang Rute Bandung – Ketapang, Perkuat Konektivitas Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa
Sinyal Bahaya untuk Nvidia? Google Siapkan Gebrakan Besar di AI
Perkuat Sinergi Akademik dan Industri Global, KLTC Lakukan MoU Dengan Enigma Business School (EBS)
Perbedaan WF vs H Beam untuk Gudang & Pabrik: Mana Lebih Hemat Jangka Panjang?

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 20:03 WIB

Menuju Usia ke-45, BINUS University Raih Global Most Innovative Knowledge Enterprise (MIKE) Award 2025: Wujudkan Dampak Berkelanjutan

Selasa, 21 April 2026 - 20:03 WIB

Ketegangan Amerika-Iran Kembali Memanas, Bittime Soroti Pentingnya Diversifikasi Aset Investasi

Selasa, 21 April 2026 - 19:03 WIB

Krakatau Steel Soroti Pergeseran Peta Baja Global, Dorong Penguatan Struktur Pasar Domestik yang Sehat

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kinerja Kopi PalmCo Tetap Solid di Tengah Tekanan Cuaca

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

KAI Hadirkan KA Sangkuriang Rute Bandung – Ketapang, Perkuat Konektivitas Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa

Berita Terbaru