KSP Soroti Ketimpangan Harga Pangan Jelang Akhir 2025, Bukan Lonjakan Nasional

Rabu, 31 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Menjelang tutup tahun 2025, isu inflasi pangan kembali menjadi perhatian pemerintah pusat. Namun, Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan bahwa tantangan utama pengendalian inflasi saat ini bukan terletak pada lonjakan harga secara nasional, melainkan pada ketimpangan harga yang masih lebar antar daerah.

Perbedaan harga yang mencolok antara kabupaten dan kota dinilai berpotensi menimbulkan tekanan ekonomi di tingkat lokal, sekaligus mengganggu stabilitas daya beli masyarakat jika tidak segera ditangani secara tepat sasaran.

Pelaksana Tugas Deputi II KSP, Telisa, menyampaikan bahwa pemetaan inflasi pangan menunjukkan sejumlah komoditas masuk dalam kategori zona merah. Komoditas tersebut memiliki selisih harga yang tinggi dan berlangsung cukup lama di berbagai wilayah.

“Pengendalian inflasi tidak bisa hanya melihat rata-rata nasional. Yang perlu dicermati adalah disparitas harga antar daerah, terutama di wilayah yang ekstrem,” ujar Telisa dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025.

Baca juga:  Kota Semarang Luncurkan Program Keluarga Cemara untuk Tekan Angka Stunting

Ia menjelaskan, kondisi ini membutuhkan pendekatan berbasis wilayah, karena setiap daerah memiliki karakter distribusi dan pasokan yang berbeda.

Berdasarkan evaluasi KSP, beberapa komoditas strategis tercatat berada di zona merah akibat disparitas harga yang tinggi dan persisten. Di antaranya adalah cabai merah keriting dan cabai rawit merah, yang kerap menjadi pemicu inflasi musiman.

Selain itu, bawang merah, bawang putih, beras medium, serta daging ayam ras juga termasuk dalam kelompok komoditas yang perlu mendapat perhatian serius. Fluktuasi harga pada komoditas ini dinilai dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama rumah tangga menengah ke bawah.

Baca juga:  Malam Penuh Haru: KKN Posko 73 UIN Walisongo Semarang Tutup Masa Pengabdian di Karangduren

Di sisi lain, KSP juga mencatat sejumlah komoditas yang masih berada di zona kuning. Artinya, harga relatif terkendali, namun memiliki potensi meningkat jika pengawasan melemah.

Komoditas tersebut meliputi gula pasir curah, kedelai, jagung pakan, daging sapi, serta ayam hidup. Menurut Telisa, pemantauan harian perlu dilakukan agar zona kuning tidak bergeser menjadi zona merah, terutama saat memasuki awal tahun 2026.

Sebagai langkah antisipasi, KSP merekomendasikan penguatan intervensi di wilayah dengan disparitas harga paling tinggi. Pendekatan ini dilakukan secara spesifik berbasis kabupaten dan kota, bukan kebijakan umum yang bersifat nasional.

Distribusi pangan dan operasi pasar diarahkan lebih terukur melalui peran Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), dengan fokus utama pada beras dan minyak goreng. Pengamanan distribusi juga diperkuat bersama TNI, Polri, dan Kejaksaan guna mencegah praktik anomali harga di lapangan.

Baca juga:  Merbabu Sky Run 2025 Hadirkan Ribuan Pelari dari Dalam dan Luar Negeri

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa intervensi distribusi terus digencarkan di daerah dengan ketimpangan harga tertinggi. Operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah menjadi instrumen utama untuk menekan disparitas sekaligus menjaga stabilitas harga.

Menurutnya, ketersediaan stok dan kelancaran logistik merupakan kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat. “Intervensi kami lakukan berbasis wilayah dengan memperkuat distribusi dan stok. Tujuannya agar harga tetap stabil dan daya beli masyarakat terjaga,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Cuaca Ekstrem Dini Hari, Jalur Kereta Pantura Sempat Terganggu
Kementerian PKP Pimpin Pemulihan Permukiman Pascabencana di Sumatra
Isra Mikraj 1447 H, Menag Tekankan Salat sebagai Pondasi Akhlak dan Kesadaran Ekologis
KPK Ingatkan Risiko Korupsi Penugasan Khusus Pertamina dalam Kerja Sama Energi dengan AS
RUU Penanggulangan Disinformasi Disorot DPR, Komisi I Minta Pemerintah Lebih Terbuka
Kemenhut Gandeng Yayasan Pertamina, Optimalisasi KHDTK Dorong Hutan Berkelanjutan dan Tangguh Bencana
Jawa Tengah Tancap Gas Menuju Swasembada Pangan 2026, Ini Strategi Besarnya
Darurat Sampah Nasional Ditetapkan, Pemerintah Dorong Peran Aktif Daerah dan DPRD

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 10:28 WIB

Cuaca Ekstrem Dini Hari, Jalur Kereta Pantura Sempat Terganggu

Jumat, 16 Januari 2026 - 10:18 WIB

Kementerian PKP Pimpin Pemulihan Permukiman Pascabencana di Sumatra

Jumat, 16 Januari 2026 - 08:42 WIB

Isra Mikraj 1447 H, Menag Tekankan Salat sebagai Pondasi Akhlak dan Kesadaran Ekologis

Jumat, 16 Januari 2026 - 06:15 WIB

KPK Ingatkan Risiko Korupsi Penugasan Khusus Pertamina dalam Kerja Sama Energi dengan AS

Kamis, 15 Januari 2026 - 12:12 WIB

Kemenhut Gandeng Yayasan Pertamina, Optimalisasi KHDTK Dorong Hutan Berkelanjutan dan Tangguh Bencana

Berita Terbaru