Kongres PB HMI: Mahkota Cabang dan Kepala yang Terinjak

waktu baca 4 menit
Jumat, 18 Sep 2026 14:10 3 jatengvox

“Saya jijik melihat orang-orang ambisius yang rela menginjak kepala temannya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi.” – Soe Hoek Gie

Sebelum menyelam lebih dalam atas judul yang diangkat, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini bukan untuk menyudutkan namun muncul atas kegelisahan-kegelisahan di persimpangan jalan perkaderan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kongres adalah pertemuan besar bagi para wakil organisasi untuk berdiskusi dan mengambil keputusan mengenai berbagai masalah. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali mengadakan kongres ke-33 nya yang digelar di Bandar Lampung akhir tahun 2026. Kongres bukan hanya soal kecakapan dalam berbicara dan adu mekanik yang tidak menghasilkan apapun. Melainkan forum yang mewadahi dan diharapkan mendapatkan inovasi baru untuk kemajuan organisasi.

Seorang kader biasa seperti saya bertanya-tanya, apakah benar arena kongres merupakan pertarungan gagasan? Atau arena para mahkota cabang untuk menginjak banyak kepala temannya.

Saya teringat sosok Soe Hoek Gie, seorang aktivis ulung yang kuat sekali idealismenya. Seorang tokoh pemuda yang berhasil menggulingkan rezim namun ditawarin banyak jabatan ia menolak. Kutipan paling atas merupakan kalimat tegas, lugas, dan patas. Kalimat Gie bukan sekadar kalimat emosional seorang mahasiswa ulung yang idealis, melainkan kalimat putusan moral bahwa ada garis yang tidak boleh dilangkahi manusia. Betapa signifikannya kekuasaan.

Baca juga:  Membangun dari Bawah: Peran Tak Tergantikan Pemerintah Desa dalam Transformasi Nasional

Antara Ambisi Perkaderan atau Politik

Dalam realitas kehidupan, kita sering dipertemukan bagaimana ambisi sering menyamar sebagai profesionalisme. Bagaimana jabatan menebas kepala teman se-pengurusannya hanya dengan dalih “perkaderan atau politik”. Ia memakai jas rapi, dasi kupu-kupu, berbicara dengan pencapaian, dan target. Namun di balik itu semua, perlahan-lahan kemanusiaan disingkirkan, solidaritas diumpatkan, pertemanan ditebas tanpa tau alasannya itu kenapa.
Jujur, sebagai kader biasa yang tumbuh di komisariat bertanya-tanya “Ada apa dengan HmI cabang Semarang?” Ambisi apa yang sedang diperebutkan sampai harus mengorbankan unit terkecil dari perkaderan yakni, KOMISARIAT.

Dalam dunia politik, apapun yang dilakukan namun itu semua kembali lagi kepada kepentingan seseorang. Kita kerap menemukan paradoks yang menyakitkan: orang-orang lantang berbicara perkaderan tapi justru oknum penebas perkaderan. Idealisme hanyalah bualan jargon, tapi pada praktiknya meniru pola hitam. Menyingkirkan teman lama, menyikut jalan, dan menempuh segala medan.

Baca juga:  Duduk Santai di Rosali, Irham Kahfi dan Puthut EA Bahas "Mentalitet Korea" ala Bambang Pacul

Apa yang sedang diperebutkan?

Jika berbicara kongres, pasti sudah semestinya harus memikirkan sinergisitas antara perkaderan dengan dunia pekerjaan. Kalau HMI menjadikan Kongres sebagai forum tertingginya, maka pertemuan para wakil-wakil kader per/daerahnya berhak bersuara atas kegelisahan-kegelisahannya.

Sependek pengetahuan saya, HMI banyak melahirkan kader yang hitam namun masih jarang melahirkan kader yang hijau. Pertaruhan antar bakal calon kandidat satu dengan lainnya sedang berusaha mencari mengorek suara mana yang bisa mengamankannya. Namun, permainan yang sangat menakjubkan itu datang dari cabang sendiri.

Bakal Calon Kandidat dan Kader Komisariat

Peristiwa hari ini mengharuskan siapa yang memiliki kepentingan tapi menyeret kader yang tidak memiliki kepentingan sama sekali. Benarkah para mahkota cabang HMI merupakan representasi kader cabangnya? Ini menjadi pertanyaan yang sebetulnya runyam untuk dijelaskan. Karena suara mahkota cabang HmI adalah suara mereka yang ia pimpin.

Pada kacamata kongres PB HMI, saya menduga para mahkota cabang sedang menyelinap tawaran mana yang cocok buat diri sendiri namun ia lupa dulu waktu masa perjuangannya ia didukung oleh siapa. Kandidat-kandidat mahkota PB HmI mereka sebagai klien bagi para cabang lainnya. Karena itulah gelanggang tutup komunikasi dan menginjak kepala adalah sebuah keharusan yang jijik untuk diingat sampai kapanpun.

Baca juga:  Milad 113 Muhammadiyah, Haedar Nashir: Kesejahteraan Harus Merata

Melihat semangat keislaman dan keindonesiaan para kader komisariat, terkadang saya pilu melihat cara main mahkota cabang saya sendiri. Penuh ambisi namun sunyi untuk dilakukan. Pencarian kader satu itu butuh waktu dua minggu untuk menyakinkan. Namun saya heran dan bertanya-tanya dengan cabang saya, sebenarnya apa yang sedang diperjuangkan?

Sampai detik ini, saya gelisah himpunan hijau hitam ini dipenuhi ego yang besar yang menihilkan kepentingan perkaderan demi politik transaksional. Kongres yang seharusnya menjadi ruang yang sehat namun dalam pra-kongres ini menjadi ruang yang jauh dari kata bau busuk ambisi, emosi, dan kepentingan segelintir orang: para penjual asongan dan harkat martabat organisasi.

 

Penulis: Rahmat Setiawan (Kabid PTKP HMI Korkom Walisongo)

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA