Jatengvox.com – Tim KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan evaluasi penerimaan konsumen terhadap inovasi produk gummy jamu yang dikembangkan bersama mitra UMKM Desa Pondok,(7/8/26).
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan dan potensi penerimaan pasar terhadap dua varian gummy jamu, yaitu beras kencur dan kunyit asam, sebagai bentuk modernisasi produk jamu tradisional.
Evaluasi dilakukan melalui survei kepada 25 responden yang diminta menilai kedua varian berdasarkan enam aspek organoleptik, yaitu warna, aroma, rasa, tekstur atau kekenyalan, kemudahan dikunyah, dan kesukaan secara keseluruhan. Penilaian menggunakan skala 1–4, mulai dari sangat tidak suka hingga sangat suka.
Hasil survei menunjukkan bahwa kedua varian gummy jamu memperoleh tanggapan positif dari konsumen.
Varian beras kencur memperoleh indeks penerimaan keseluruhan sebesar 82,2% dengan kategori baik, sedangkan varian kunyit asam memperoleh indeks penerimaan sebesar 75,7% dengan kategori cukup.
Pada varian beras kencur, aspek yang mendapatkan nilai tertinggi adalah kemudahan dikunyah dengan indeks 88%, diikuti kesukaan keseluruhan sebesar 83%. Sementara itu, pada varian kunyit asam, aspek terbaik juga terdapat pada kemudahan dikunyah dengan indeks 86%.
Selain menilai kualitas produk, survei juga mengukur minat konsumen terhadap peluang pemasaran produk tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa 96% responden menyatakan bersedia membeli gummy jamu apabila dipasarkan, sedangkan hanya 4% responden yang menyatakan tidak bersedia.
Temuan ini mengindikasikan bahwa inovasi gummy jamu memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan sebagai produk UMKM yang lebih menarik dan sesuai dengan preferensi konsumen masa kini.
Dari sisi preferensi rasa, 40% responden memilih varian beras kencur sebagai favorit, 36% menyukai kedua varian secara bersamaan, dan 24% memilih varian kunyit asam.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua varian memiliki daya tarik tersendiri dan tidak terdapat dominasi yang terlalu besar pada salah satu produk.
Beras kencur lebih disukai karena cita rasanya yang familiar dan teksturnya yang nyaman, sedangkan kunyit asam dinilai memiliki rasa yang segar dan unik sehingga berpotensi menarik minat konsumen muda.

Melalui kegiatan survei ini, Tim KKN Universitas Diponegoro tidak hanya membantu mengembangkan inovasi produk, tetapi juga menyediakan data yang dapat digunakan oleh pelaku UMKM sebagai dasar dalam mengambil keputusan pengembangan usaha.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa transformasi jamu ke dalam bentuk gummy mampu meningkatkan daya tarik produk tanpa menghilangkan identitas bahan tradisional yang digunakan.
Mitra UMKM Desa Pondok, Ibu Ngatinah, menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN. Beliau menyampaikan, “Terima kasih atas ilmu dan surveinya. Saya jadi lebih yakin untuk mencoba inovasi produk gummy jamu ini sebagai pengembangan usaha jamu yang selama ini saya jalankan.”
Melalui hasil survei ini, diharapkan inovasi gummy jamu dapat menjadi salah satu alternatif produk unggulan UMKM Desa Pondok yang mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan nilai tambah produk jamu tradisional, serta mendukung pengembangan ekonomi masyarakat setempat.
Penulis: Rizqi Fadhil Muhammad, TIM II KKN Universitas Diponegoro Desa Pondok
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar