Berita  

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama Masyarakat Gelar Selapanan di Masjid Jami’ Nurul Ulum Jleper

Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang bersama masyarakat Desa Jleper turut mendukung pelaksanaan acara rutinan selapanan malam hari di Masjid Jleper, (1/6/26).

Tradisi ini telah berkembang dari kegiatan mingguan menjadi program selapanan yang dilaksanakan setiap Selasa Kliwon malam.

Selapanan menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperkuat pemahaman agama, mempererat ukhuwah, dan menjaga tradisi keislaman yang diwariskan turun-temurun.

Sejak malam menjelang, jamaah dari Desa Jleper dan sekitarnya tampak antusias menghadiri kegiatan ini.

Suasana masjid terasa khidmat dengan lantunan doa, tahlil, dan maulid yang dibacakan bersama-sama.

Kehadiran masyarakat yang berbondong-bondong menunjukkan bahwa selapanan bukan sekadar ritual, tetapi juga momentum kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial.

Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin oleh Nadhir Masjid yaitu Kyai Zaini Muchtar.

Setelah itu, jamaah melantunkan maulid dengan bacaan Dziba, Berjanji, dan Simtudduror yang diiringi oleh Jam’iyah Rebana Cokro Buwono.

Baca juga:  Cara Meminta Sampel Fisik dan Mockup Banner ke Supplier X Banner

Puncak acara adalah mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Kiai Muhammadun dari Mranggen Demak, dengan materi yang menekankan tiga aspek utama: akhlak, ibadah, dan akidah.

Pak Muhammad Hajir, selaku panitia selapanan, menjelaskan asal mula kegiatan ini.

“Awal mula selapanan ini dari kegiatan mingguan malam Selasa. Lalu timbul gagasan dari teman-teman untuk mengadakan selapanan. Sejak itu, acara dijadikan program rutin Irmas di Masjid Jleper,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah pengajian kitab yang membahas akhlak, akidah, dan ibadah.

“Tujuannya ya ngaji. Kitab yang dipakai antara lain Tankihul Qaul karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dan Al-Gunyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dari situ kita belajar akhlak, akidah, dan ibadah. Jadi jamaah bisa memperbaiki cara rukuk, sujud, wudhu, sekaligus menanamkan iman,” jelasnya.

Dalam mauidhoh hasanah, Kiai Muhammadun menekankan bahwa akhlak merupakan tingkatan di atas ilmu, ibadah perlu dibenahi dalam praktik sehari-hari, dan akidah harus ditanamkan agar iman semakin kuat meskipun kadang naik turun.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Meriahkan Semarak Hari Santri di TPQ dan Madin Darul Hidayah Desa Tamanrejo Kecamatan Limbangan

Pesan ini memberi motivasi jamaah untuk lebih semangat dalam beribadah dan memperbaiki akhlak sehari-hari.

Pak Sholeh, salah satu jamaah yang hadir, mengaku senang dengan adanya kegiatan rutin tersebut.

“Saya merasa senang bisa ikut selapanan. Selain bisa bertemu dengan warga sekitar, saya juga mendapat ilmu baru dari pengajian kitab. Rasanya lebih tenang karena bisa belajar bersama secara langsung dari kiai,” ujarnya.

Ia juga menuturkan bahwa suasana kebersamaan dalam acara ini membuat jamaah semakin bersemangat.

“Yang paling saya suka itu ketika tahlil dan maulid dibaca bersama-sama. Suasananya khidmat tapi juga hangat. Ditambah lagi konsumsi nasi dari swadaya masyarakat, jadi terasa kebersamaan dan gotong royongnya,” katanya.

Konsumsi berupa nasi dalam acara ini berasal dari swadaya masyarakat. Awalnya disediakan oleh panitia penggagas, kemudian berkembang menjadi tradisi bersama di mana warga secara sukarela ikut berpartisipasi menyediakan makanan.

Baca juga:  Lintasarta Raih Dua Penghargaan Internasional, Perkuat Posisi di Solusi ICT dan Keamanan Siber

“Awalnya konsumsi disediakan teman-teman penggagas. Lama-lama warga ikut berbondong-bondong membawa ambengan. Jadi sekarang konsumsi berasal dari swadaya masyarakat,” kata Pak Hajir.

Kegiatan selapanan malam hari ini memberikan manfaat nyata bagi jamaah, antara lain peningkatan pengetahuan agama (kognitif), pembiasaan praktik ibadah yang benar (psikomotoris), serta penanaman nilai akhlak dan akidah (afektif).

Selain itu, acara ini mempererat ukhuwah antarwarga dan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi Islami.

Harapan dari panitia dan jamaah adalah agar kegiatan ini tetap istiqomah dilaksanakan, lebih tertib, dan terus memberi manfaat berkelanjutan.

“Pesan saya, semoga selapanan ini terus berjalan dengan baik. Harapannya jamaah bisa mengambil ilmu, baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun praktik ibadah sehari-hari,” tutup Pak Hajir.

 

Penulis: Tim KKN UIN Walisongo Semarang Posko 11

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *